Advertisement

Wayang Kulit Jadi Penanda Toilet di Central Market Malaysia, Kok Bisa?

OBSERVER  ─  Sebuah penempatan desain interior di Negeri Jiran kini tengah menjadi sorotan dan memicu diskusi terkait etika budaya. Sosok Wayang Kulit, yang merupakan mahakarya seni tradisional sarat makna asal Jawa, Indonesia, kedapatan digunakan sebagai ornamen penanda pintu masuk toilet di lantai 2 Central Market, Kuala Lumpur, Malaysia. Tim OBSERVER menemukan gambar wayang produk budaya Jawa Tengah ini pada Jumat (2/10/2026).

Berdasarkan dokumentasi visual yang beredar, siluet tokoh wayang tersebut terpampang jelas membedakan area masuk fasilitas sanitasi. Siluet ksatria digunakan untuk penanda toilet pria (Gents), sementara siluet wayang putri digunakan untuk penanda toilet wanita (Ladies).

Meskipun terlihat estetis secara visual, penempatan ini memicu pertanyaan besar terkait sensitivitas dan apropriasi budaya.

Bukan Sekadar Ornamen Dekoratif

Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa Tengah, Wayang Kulit bukan sekadar pajangan. Seni pertunjukan yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Mahakarya Warisan Kemanusiaan (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) ini membawa nilai filosofis, karakter luhur, dan akar spiritual yang mendalam.

Dalam tradisi aslinya, tokoh-tokoh wayang mewakili manifestasi sifat-sifat manusia dan ketuhanan. Oleh karena itu, menempatkan simbol keluhuran budi di area yang secara universal dianggap profan atau “kotor” seperti toilet, dinilai tidak etis dan berpotensi merendahkan nilai sakral warisan budaya tersebut.

Gaya Visual Identik dengan Gagrak Jawa

Meski Malaysia juga memiliki tradisi pertunjukan wayang, seperti Wayang Kulit Kelantan, gaya visual ornamen yang dipajang di Central Market tersebut menunjuk pada identitas yang berbeda. Gambar wayang kulit tersebut dapat dipastikan berasal dari tradisi budaya Jawa Tengah, Indonesia.

“Dari proporsi tubuh, bentuk hidung, hingga detail mahkota dan busana, siluet tersebut sangat identik dengan Wayang Kulit purwa gaya Jawa Tengah (Surakarta atau Yogyakarta),” komentar salah satu kawan keturunan Jawa Tengah yang tidak ingin disebutkan namanya. Hal ini memunculkan dugaan bahwa pihak desainer interior mengadopsi aset visual secara acak dari internet tanpa menelusuri asal-usul, konteks, dan adab penggunaannya.

BACA JUGA:  Menguji Arah Ekonomi 2026: Dualitas Populisme vs. Realitas Fiskal

Mendorong Teguran Edukatif

Menyikapi insiden apropriasi budaya ini, para pengamat seni menyarankan agar publik tidak sekadar bereaksi dengan sentimen nasionalisme yang reaktif. Langkah yang lebih elegan dan berdampak adalah dengan memberikan teguran konstruktif dan edukatif kepada pihak manajemen Central Market Kuala Lumpur.

Kesalahan desain semacam ini sering kali berakar pada ketidaktahuan (ignorance). Melalui komunikasi dan surat resmi, publik dapat mendesak pengelola pusat perbelanjaan bersejarah tersebut untuk mengevaluasi dan mengganti ornamen toilet mereka dengan desain yang lebih pantas, demi menjaga kehormatan simbol budaya negara serumpun.

Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat penting bagi para pelaku industri kreatif dan desain interior di mana pun: estetika visual tidak boleh mengorbankan etika dan makna luhur sebuah warisan budaya.

Pewarta: BTS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *