OBSERVER — Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, mendorong generasi muda di negaranya untuk secara aktif menguasai teknologi terkini, seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan pengkomputeran kuantum (quantum computing).
Anwar Ibrahim menyampaikan ini dalam Acara Youth Economic Forum 2026 di Kuala Lumpur, Sabtu (3/10/2026).
Langkah ini dinilai sangat krusial guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan memastikan Malaysia tidak tertinggal dalam persaingan global.
Dalam pernyataannya, PM Anwar menegaskan pentingnya percepatan transformasi digital agar bangsa Malaysia tidak hanya menjadi penonton dalam lanskap kemajuan teknologi masa depan.
”Kuasai AI atau Ditundukkan AI”
Menjelaskan urgensi penguasaan teknologi modern, Anwar mengutip kembali pesan strategis yang pernah disampaikan saat bertemu Perdana Menteri China, Li Qiang, di Shanghai.
”Transformasi digital membutuhkan AI. Jika tidak, kita akan tertinggal dalam pembangunan dan dalam kemampuan memperkuat perekonomian,” ujar Anwar.
”Kita harus menguasai AI. Jika tidak, AI yang akan menguasai kita,” tegasnya.
Menurutnya, penguasaan ilmu pengetahuan baru ini sepenuhnya ada di tangan generasi muda. Pemerintah berkomitmen menyediakan ruang, peluang, dan fasilitas pelatihan agar para pemuda dapat mengeksplorasi disiplin ilmu masa depan secara serius.
Tetap Menjaga Etika, Nilai, dan Integritas
Meskipun mendorong lompatan teknologi secara masif, Perdana Menteri mengingatkan agar kemajuan pesat di bidang digital dan AI tidak mengorbankan nilai-nilai moral, etika, budaya, serta kemanusiaan.
Anwar menyerukan agar pemuda Malaysia terus melatih pemikiran kritis dan mendedikasikan diri pada prinsip-prinsip kebenaran, keadilan, serta integritas tinggi. Kombinasi antara penguasaan teknologi canggih dan fondasi etika yang kuat dianggap sebagai kunci utama membawa bangsa ke arah yang lebih maju dan bermartabat.
Visi Malaysia Baru dalam 10 Tahun ke Depan
PM Anwar optimistis bahwa dengan semangat baru dari generasi muda dalam mengadopsi teknologi modern, ekonomi dan lanskap sosial Malaysia akan mengalami transformasi besar.
”Saya percaya jika semangat baru ini terus dijaga, kita akan melihat negara kita bergerak maju dengan cepat. Dalam kurun waktu 10 tahun, kita tidak lagi melihat Malaysia yang seperti hari ini, melainkan sebuah Malaysia baru yang dinamis, progresif, dan sukses,” pungkasnya.
Bagaimana dengan Indonesia?
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pandangan yang sangat senada. Presiden Prabowo berulang kali menegaskan bahwa penguasaan teknologi tinggi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) merupakan kunci vital bagi masa depan Indonesia.
Poin-poin kesamaan pandangan Presiden Prabowo dengan PM Anwar Ibrahim:
- Penguasaan AI oleh Generasi Muda: Prabowo mendorong agar anak-anak muda dan SDM Indonesia menguasai ilmu AI, sains, dan teknologi sejak dini. Menurutnya, tanpa kesiapan SDM, Indonesia hanya akan menjadi penonton dan berisiko tertinggal dari negara lain.
- Kunci Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan: Dalam berbagai kesempatan (termasuk forum KTT APEC), Prabowo menyatakan bahwa AI dan teknologi tinggi adalah instrumen utama untuk mengentaskan kemiskinan, memperkuat ketahanan pangan, serta memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
- Kedaulatan Teknologi: Seperti halnya peringatan Anwar Ibrahim agar tak “ditundukkan AI”, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia harus memastikan kendali atas masa depan teknologinya sendiri, bukan sekadar menjadi konsumen teknologi asing.
- Antisipasi Risiko dan Tantangan Etika: Prabowo juga mengingatkan bahwa perkembangan pesat AI membawa dua sisi mata uang: peluang besar dan risiko tinggi (seperti ancaman siber dan disrupsi pekerjaan). Oleh karena itu, penguatan ekosistem riset, pendidikan, dan adopsi yang terarah sangat diperlukan.
Pewarta: BTS








Leave a Reply