OBSERVER — Dunia kencan masa kini seolah tak pernah kehabisan tren nyeleneh. Sebuah fenomena baru yang dijuluki “pheromone-maxxing” tengah viral di TikTok, di mana para cowok dari Gen Z secara sengaja melewatkan rutinitas mandi dan pemakaian deodoran sebelum pergi berkencan.
Fenomena ini sempat dilansir situs New York Post (nypost.com) dan OBSERVER mengaksesnya pada Minggu (18/10/2026).
Seperti apa tren “Pheromone-Maxxing“, mari kita simak ulasannya berikut ini.
Alih-alih tampil wangi dan bersih, para pengikut tren ini meyakini bahwa aroma tubuh alami atau bau badan yang menyengat justru dapat meningkatkan daya tarik seksual mereka di mata cewek.
Apa Itu Pheromone-Maxxing?
Pheromone-maxxing adalah bagian dari subkultur “looksmaxxing” di media sosial—sebuah gerakan di mana para cowok berusaha memaksimalkan penampilan fisik mereka, seringkali melalui metode ekstrem. Dalam kasus pheromone-maxxing, teorinya bertumpu pada keyakinan bahwa membiarkan feromon alami tubuh keluar akan membuat cowok tampak lebih memikat secara biologis.
Beberapa penganut tren ini bahkan melakukan tindakan yang jauh di luar batas kebersihan normal. Laporan dari Vice menyebutkan ada individu yang sengaja mengenakan kemeja kotor berulang kali, hingga meminum air seni mereka sendiri dengan dalih “mengeluarkan racun melalui keringat.”
Feromon sendiri merupakan senyawa kimia yang mengirimkan sinyal antaranggota spesies yang sama. Meskipun keberadaannya terbukti kuat pada serangga dan hewan, fungsi dan eksistensi feromon pada manusia masih menjadi perdebatan panjang di kalangan ilmuwan.
Fakta Ilmiah vs Mitos: Benarkah Bau Badan Bikin Menarik?
Klaim bahwa bau keringat membuat pria lebih seksi ternyata tidak sepenuhnya didukung oleh sains.
Menurut Scientific American, meskipun bau dan sekresi tubuh manusia dapat memengaruhi respons fisiologis orang lain, hingga saat ini belum ada satu pun feromon manusia yang berhasil diidentifikasi secara pasti. Ilmuwan belum menemukan bukti adanya respons perilaku yang konsisten terhadap isyarat kimiawi dari tubuh manusia.
Tren ini sering kali berlindung di balik eksperimen terkenal tahun 1995 yang dikenal sebagai “studi kaus berkeringat.” Dalam studi tersebut, pria diminta memakai kaus yang sama selama dua malam. Hasilnya, wanita cenderung lebih menyukai aroma tubuh pria yang memiliki gen MHC (major histocompatibility complex) yang berbeda dari gen mereka sendiri.
Namun, studi lanjutan memberikan hasil yang beragam. Sebuah analisis komprehensif pada 2020 terhadap berbagai penelitian sebelumnya justru tidak menemukan bukti kuat bahwa seseorang lebih menyukai pasangan dengan gen MHC yang berbeda, atau menganggap bau badan mereka lebih menarik.
“Bukan Seksi, Malah Bikin Jijik”
Meski baru-baru ini kembali mencuat, jejak digital menunjukkan konsep pheromone-maxxing sudah beredar setidaknya sejak tahun 2024. Di forum Reddit seperti r/TikTokCringe, tren ini menuai gelombang kritik dan rasa jijik dari warganet.
“Apakah dia berpikir bahwa mandi berarti Anda tidak lagi menghasilkan feromon? Sungguh menyedihkan tidak ada yang mengajarinya pentingnya kebersihan,” tulis seorang pengguna Reddit. Pengguna lain menambahkan, “Tidak mungkin saya membiarkan anak saya pergi dengan bau badan tidak sedap.”
Topik ini juga menjadi sorotan di media arus utama. Dalam acara “The Five” di Fox News, pembawa acara Jesse Watters menyarankan agar para pria kembali pada kebersihan dasar: mandi sederhana dengan sabun batangan dan sampo.
Senada dengan Watters, panelis Tyrus menegaskan bahwa kunci daya tarik bukanlah pada bau badan yang menyengat atau parfum yang berlebihan, melainkan keseimbangan.
“Gunakan deodoran tanpa aroma. Anda tidak ingin berbau seperti orang yang baru pulang dari sekolah, tetapi Anda juga tidak ingin berbau seperti memakai parfum murahan. Pesan yang salah justru akan membuat Anda dianggap menjijikkan,” tegasnya.
Kesimpulan untuk para cowok Gen Z: Sebelum memutuskan untuk melewatkan sabun mandi demi sebuah tren viral, ingatlah bahwa kebersihan diri yang baik tetap menjadi kunci utama yang tak lekang oleh waktu dalam memikat calon pasangan.
(bts/ob)















Leave a Reply