Advertisement

Taktik Jitu Juru Bicara Pengadilan Hadapi Wartawan Kritis di Era Digital

OBSERVER, Jakarta — Di era digital yang serba cepat, arus informasi mengalir deras bagaikan air bah yang tak terbendung. Setiap detiknya, berita baru bermunculan dan menyebar luas ke seluruh penjuru negeri—tak terkecuali informasi yang berkaitan dengan dinamika penegakan hukum dan lembaga peradilan.

Situasi ini tentu membawa tantangan krusial, khususnya bagi Mahkamah Agung (MA) dan badan peradilan di bawahnya. Menjawab tantangan tersebut, Mahkamah Agung RI menggelar Pelatihan Juru Bicara Pengadilan untuk membekali para garda terdepan komunikasi lembaga agar lebih siap menghadapi dinamika media saat ini. Pelatihan tersebut berlangsung tanggal 23 September sampai dengan 1 Oktober 2026.

Menjaga Kredibilitas Lewat “Media Handling“

Pelatihan ini menghadirkan Fifi Aleyda Yahya, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Kementerian Komunikasi dan Digital RI (Kemenkomdigi) sebagai narasumber utama. Dalam sesi bertajuk “Juru Bicara dan Media Handling”, Fifi mengupas tuntas berbagai strategi jitu untuk menjaga kredibilitas dan kepercayaan publik di tengah pusaran arus informasi yang kian kompleks.

Sebagai wajah dari institusi peradilan, seorang Juru Bicara dituntut untuk memiliki kemampuan komunikasi yang mumpuni, terutama saat berhadapan dengan pertanyaan tajam dari wartawan yang kritis. Kesalahan dalam memberikan pernyataan dapat berakibat fatal pada citra lembaga peradilan di mata masyarakat.

Perubahan Ekosistem Media: Mengapa Juru Bicara Harus Adaptif?

Ekosistem media saat ini telah berubah secara drastis dan menuntut adaptasi yang cepat dari para praktisi humas pemerintahan. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam pelatihan tersebut, tercatat 64% masyarakat Indonesia kini mengakses berita melalui media digital dan platform sosial.

Fakta ini menegaskan bahwa informasi—baik positif maupun negatif—dapat diviralkan hanya dalam hitungan menit. Oleh karena itu, Juru Bicara Pengadilan tidak bisa lagi menggunakan pola komunikasi konvensional yang kaku.

Sayang Dilewatkan:  Kebocoran Potensi Pendapatan dari Parkir Liar di Jakarta Lebih dari Rp 8T/Tahun
Taktik Utama Menghadapi Wartawan Kritis

Dalam sesi pembekalannya, terdapat beberapa poin penting yang menjadi “senjata” bagi Juru Bicara Pengadilan dalam menghadapi wartawan yang kritis:

  • Penguasaan Materi yang Komprehensif: Juru bicara harus memahami konteks perkara atau isu yang sedang disorot. Jawaban yang berbasis data dan fakta hukum akan membungkam spekulasi liar.

  • Ketenangan Emosional (Emotional Intelligence): Wartawan kritis kerap melontarkan pertanyaan provokatif untuk mendapatkan kutipan (quote) yang menarik. Tetap tenang dan tidak terpancing emosi adalah kunci utama.

  • Penyampaian yang Empatik namun Tegas: Menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat awam tanpa menghilangkan esensi dan marwah hukum.

  • Respon Cepat (Quick Response): Di era media sosial, keterlambatan memberikan klarifikasi (delay of information) sama dengan membiarkan hoaks berkembang biak. Juru bicara harus proaktif, bukan sekadar reaktif.

Garda Terdepan Kepercayaan Publik

Pelatihan ini diharapkan tidak sekadar menjadi rutinitas seremonial, tetapi benar-benar mencetak Juru Bicara Pengadilan yang tangguh. Ketika keadilan dan transparansi bersinggungan di ruang publik, strategi media handling yang tepat akan memastikan pesan institusi tersampaikan dengan akurat.

Pada akhirnya, kelihaian Juru Bicara Pengadilan dalam berhadapan dengan wartawan bukan ditujukan untuk menutupi fakta, melainkan untuk memastikan bahwa masyarakat mendapatkan informasi hukum yang utuh, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Disarikan dari tulisan Ida Masnita Sigalingging — Widyaiswara Ahli Pertama Badan Strajak Diklat Kumdil (suarabsdk.com)
Editor: BTS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *