Advertisement

Trump Ngamuk di Tengah Malam yang menyebut Pemilu AS ‘Korup’

OSERVER — Trump menunjukkan kegelisahannya menghadapi Pemilu Sela (Midterms) pada 3 November 2026. Ia mengungkapkan hal ini melalui sebuah unggahan tengah malam yang meledak-ledak di Truth Social akunnya pada 5 Oktober 2026 sebagaimana dilansir oleh independent.co.uk.

Jajak pendapat yang beredar belakangan ini memang menjadi alarm bahaya bagi Partai Republik. Di tengah isu inflasi dan gejolak perang Iran, Partai Demokrat diprediksi kuat akan merebut kembali kendali Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan berpotensi memenangkan Senat.

Lalu, bagaimana sang Presiden merespons tekanan ini? Ia kembali pada taktik lamanya yang teruji memobilisasi basis massanya: menabur keraguan pada integritas pemilu itu sendiri.

Dalam unggahannya, Trump membuat perbandingan yang menarik perhatian banyak pihak. Ia membandingkan sistem pemilu AS dengan pemilihan presiden putaran pertama di Brasil yang mempertemukan petahana Luiz Inacio Lula da Silva dengan Flavio Bolsonaro (putra sekutu Trump, Jair Bolsonaro).

“125 juta orang memberikan suara hari ini di putaran pertama Pemilihan Presiden Brasil,” tulis Trump. “Hasilnya keluar tak lama setelah pemungutan suara ditutup, pada HARI YANG SAMA!”

Ia kemudian melontarkan kritik tajam kepada kota-kota dan negara bagian di AS yang sering menjadi basis Partai Demokrat. “Di Detroit, Philadelphia, California, dan banyak kota serta negara bagian AS lainnya, hasil dengan jumlah [pemilih] yang jauh lebih kecil akan memakan waktu berminggu-minggu untuk dicurangi—maksud saya, dihitung. Pemungutan suara di Amerika itu KORUP!!!” tambahnya.

Janji Cek $5.000: Strategi Populis atau ‘Membeli’ Suara?

Tidak hanya menyerang integritas pemilu, Trump juga menyematkan sebuah video kampanye di puncak profil Truth Social-nya. Dalam video tersebut, ia menjanjikan bahwa setiap orang dewasa di AS akan menerima cek sebesar $5.000 (sekitar Rp78 juta) dengan satu syarat: Partai Republik harus mempertahankan kendali Kongres bulan depan.

Sayang Dilewatkan:  Evaluasi PERMA No 3 Tahun 2021: Sinergi MA dan KPPU Perkuat Penegakan Hukum Persaingan Usaha

Janji fantastis ini tak pelak memicu gelombang kritik. Banyak pengamat politik menuding sang presiden sedang melakukan manuver putus asa untuk “membeli” suara demi membalikkan tren negatif di berbagai jajak pendapat.

Namun, Trump menepis jajak pendapat tersebut. Ia mengklaim bahwa survei-survei itu merupakan upaya untuk menekan partisipasi pemilih Make America Great Again (MAGA). “Saya memenangkan seluruh 7 Negara Bagian Kunci (Swing States), Suara Populer, 86% Wilayah, dan 99% Pemilihan Primer tahun ini. SAYA ADA DI SURAT SUARA!” tegasnya.

Bayang-bayang Masa Lalu dan Narasi ‘Deep State’

Rasa frustrasi Trump terhadap sistem pemilu bukanlah barang baru. Narasi tentang “pemilu curang” adalah warisan kelam dari Pilpres 2020 yang memuncak pada tragedi kerusuhan Gedung Capitol, 6 Januari 2021.

Meski Departemen Kehakiman dan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS telah menegaskan bahwa “tidak ada bukti kecurangan atau campur tangan yang mengubah hasil”, Trump tidak pernah melepaskan klaim tersebut. Bahkan, pada bulan Juli lalu, dalam pidato jam tayang utama dari Ruang Oval, ia menuduh China dan agen-agen rahasia AS (deep state) telah merekayasa kekalahannya enam tahun silam.

Lucunya, sebuah chatbot AI resmi milik pemerintah AS baru-baru ini sempat mengutip temuan bahwa pemilu 2020 berjalan bersih, sebelum akhirnya segera “diperbaiki” agar sejalan dengan narasi sang presiden.

Krisis Kepercayaan Publik Amerika

Terlepas dari kebenaran klaim-klaim tanpa bukti yang dilontarkan Trump, satu hal yang pasti: Amerika Serikat tengah mengalami krisis kepercayaan institusional yang parah.

Sebuah survei Gallup pada musim panas tahun ini mengungkapkan fakta yang mengejutkan. Sebanyak 90 persen warga Amerika Serikat (AS) setuju bahwa korupsi di dalam pemerintahan telah merajalela. Ironisnya, narasi-narasi tengah malam dari sang presiden di Truth Social—di antara meme tentang Greenland dan kekaguman pada kecerdasan buatan Elon Musk—justru terus menyuburkan ketidakpercayaan tersebut.

Sayang Dilewatkan:  Sinergi Komnas HAM dan BRAN: Solusi Penanganan Konflik Agraria Berbasis HAM

Dengan hari pemungutan suara yang semakin dekat, pertanyaan terbesarnya bukan hanya siapa yang akan memenangkan kendali Kongres, tetapi seberapa besar kerusakan struktural yang akan dialami oleh sistem demokrasi Amerika itu sendiri usai pemilu ini berakhir.

Sebelum AS menggelar pemilihan presiden, mereka akan melakukan Pemilihan Sela (Midterm Elections) pada Selasa, 3 November 2026. Pemilu ini bertujuan memilih seluruh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives), sepertiga anggota Senat, serta gubernur di berbagai negara bagian.

Pewarta: BTS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *